
[{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/categories/blog/","section":"Categories","summary":"","title":"Blog","type":"categories"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/categories/","section":"Categories","summary":"","title":"Categories","type":"categories"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/tags/post/","section":"Tags","summary":"","title":"post","type":"tags"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/categories/post/","section":"Categories","summary":"","title":"Post","type":"categories"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/posts/","section":"Posts","summary":"","title":"Posts","type":"posts"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/","section":"Rahmat's Yap Central","summary":"","title":"Rahmat's Yap Central","type":"page"},{"content":" Sial, lupa nulis. # I was meant to write more about the athletes!!!! Tapi MALAH NONTON TERUS COY\nGarudaTV, pemegang hak siar Terestial. # Hak siar terrestial untuk Paralimpiade Paris 2024 kali ini jatuh ke tangan GarudaTV. TV milik Presiden terpilih 2024-2029 kali ini mengemban tugas penyiaran acara olahraga disabilitas untuk kedua kali, setelah sebelumnya sempat memegang hak siar Asian Para Games 2022 Hangzhou (actually 2023).\nUntungnya, bagi anda yang mencari siaran Paralimpiade dengan (semoga sering) komentator Indonesia, nampaknya kali ini GarudaTV menyiapkan waktu tayang yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.\nBerdasarkan Jadwal Acara GarudaTV, nampaknya kurang lebih 10 jam didedikasikan sang pemegang hak siar tiap hari untuk siaran langsung.\nReview # Coverage siaran # Siaran Siang - 13:00-19:00 WIB\nSiaran Malam - 00:00-04:00 WIB\nTim GarudaTV punya waktu siaran yang cukup luas, sekitar 10 jam per hari. Akan tetapi, jam siar ini punya celah besar - Siaran sore waktu Paris (20:30 WIB dan seterusnya). Slot siaran yang nggak dicover GarudaTV ini adalah jam mulai sesi sore Panahan dan Badminton. Betapa ruginya, bahwa mereka akan melewatkan Suryo Nugroho lawan CLH sebentar malam.\nTapi sebagai komparasi, kita harus liat coverage FTA SCTV dan Moji. SCTV dan Moji nyaris nggak pernah melakukan siaran siang, bro???? YOU PAID FOR IT! AIR IT!\nScore - Jauh mendingan daripada Olimpiade/10\nHost dan Komentator # GarudaTV punya beberapa pundit utama, diantaranya bung Kavin Arshiddiqi, Panji Suryono, Sapto Haryo Rajasa, dll. Selain itu, kadang ada Olympian Debby Susanto. Sepanjang gue nonton via GarudaTV, mereka cukup baik dalam memberi info tentang aturan, klasifikasi disabilitas, dan kalau atlet Indo, bahkan tidbit info pribadi yang ga gampang didapatkan. Salut di sini.\nSayangnya, kadang mereka agak kurang di sisi antusiasme. Waktu Saptoyogo lari aja, semangatnya nggak terlalu nampak di suara mereka.\nDi sisi lain, kemarin waktu Boccia, setelah menyiarkan dua partai (M Bintang Herlangga dan Felix Ardi), rasanya tim yang ada jauh lebih invested karena sudah mulai paham dan mulai jadi armchair expert (kayak saya!). And dare I say it, that\u0026rsquo;s good! Kalo atlet Indo yang main, bawa emosi dong! Tiru komentator bola SCTV/Indosiar dalam antusiasme mereka. Ada bung Sapto tuh yang pundit bola, semangatnya harus kayak nonton Timnas!\nKekurangan kedua juga mungkin mereka kurang tim untuk melakukan background research, apakah H2H atlet Indo dengan lawannya, dll. Statistik ini bagus banget untuk membekali komentator dan penonton dengan konteks pertandingan. LA28, mau saya bantu nggak? I\u0026rsquo;ll spend my time if you want. Mereka bahkan sempat salah mengomentari, nyebut Herlangga vs Sugimura padahal Felix Ardi vs Hirose yang main. Saya sempat coba DM mas Kavin, paginya ditanggapin. They are good people.\nSaran 1: Ajak NPC Indonesia untuk suplai staff sebagai narasumber! Mereka pasti punya sebagian tim yang nggak berangkat. Ajaklah itu pelatih-pelatih yang nggak berangkat untuk datang dan jadi narasumber, they are the subject matter experts! Negara lain sering begini dalam coverage mereka, surely we also can. Kita ini cuma nonton, mereka melatih. They know way more than us.\nSaran 2: Briefing tentang bahasa inklusif! Kemarin gue sempat spot waktu Khalimatus Sadiyah ada di broadcast utama, salah satu komentator (maaf lupa) ngomong to the tune of \u0026ldquo;Yang hebat dari atlet difabel adalah semangat juang mereka.\u0026rdquo;\nSemua atlit punya semangat juang. Disabilitas mereka bukan berarti punya semangat juang itu spesial.\nStop infantilisasi, \u0026ldquo;inspiration porn\u0026rdquo;. Semoga tim jadi lebih aware. Perlakukan layaknya mereka atlet elit. Treat them the same like our Olympians.\nScore - Cukup bagus, tapi kurang sport-specific expertise/10\nOther notes # Intro siaran Arena Paris mereka sangat menggugah. They treated this event with the gravity that it needed. \u0026ldquo;Ajang bergengsi dunia\u0026rdquo;, dll, sumpah itu bikin gue mau nangis. Resolusi broadcast feed kurang. Kadang malah kerasa SD 480p daripada 720/1080p. Ini masalah feed yang masuk atau apa? Gue sempat liat agak \u0026lsquo;goyang\u0026rsquo; bahkan. Stop bikin jeda berita pas lagi ada pertandingan! Itu bisa ditunda. Tunggu jam malam aja. Konten instagram jedag jedug mantap! Insta GarudaTV mayan seru diliat pas ngecover Paralimpiade. Felix Ardi Yudha jedag jedug insane throw edits, inject that in my veins. Overall # It\u0026rsquo;s a decent enough broadcast. Masih ada kekurangan, tapi jauh lebih bagus dibanding coverage FTA Emtek di Olimpiade dan GarudaTV waktu AiPG. Sumpah, kalo kalian liat coverage GarudaTV waktu AiPG, lo bakal muak. Sangat muak. Kemarin, banyak dari kita yang sangat mengeluhkan penyiaran AiPG oleh GarudaTV yang, honestly, belepotan dan arguably nggak niat. Slot tayangan sangat sedikit. Kita bahkan harus nonton lewat siaran RTM (Malaysia) untuk tayangan langsung Badminton! iouwnefoljasdflaksjdf KALO GA NIAT MENDING GA USAH BILANG LO OFFICIAL BROADCASTER.\nTapi kali ini niat kok mereka. 10 jam siaran per hari, kalau ga ada pun ada di Youtube @Paralympics. Not the worst thing in the world. Komentator cukup lah, masih jauh dari ideal tapi juga ga bikin pengen mute siaran (Sebagian komentator bola Indo, jujur bikin gue pengen mute. No, I won\u0026rsquo;t name names.)\nFinal score: Keripik gerobak di jalan/10. Not fancy, not very sophisticated, but is enjoyable.\nGue datang dengan ekspektasi sangat rendah, tapi harusnya ekspektasi gue lebih tinggi. Untuk channel yang jarang banget nyiarin olahraga? For me, they beat SCTV and Moji. It\u0026rsquo;s already an achievement.\n","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/posts/review-paralympic-coverage-garudatv/","section":"Posts","summary":"Keenakan nonton, lupa nulis.","title":"REVIEW: Coverage GarudaTV di Paralimpiade","type":"posts"},{"content":"","date":"2 September 2024","externalUrl":null,"permalink":"/tags/","section":"Tags","summary":"","title":"Tags","type":"tags"},{"content":"Before that, sebuah thread. Udah hit tweet belum?\nKepada seluruh wartawan/jurnalis/penulis yang bakal meng-cover Paralimpiade Paris: Saya sangat menyarankan membaca panduan IPC mengenai peliputan Paralimpiade.\nMeski termnya Bhs. Inggris, tapi harusnya bisa di-ekuivalenkan ke Bahasa Indonesia. pic.twitter.com/n5y4p0jrzH\n\u0026mdash; Rahmat/ヨロロ🇮🇩 (@followIndoPr0) August 19, 2024 Seharusnya artikel kali ini ada Atletiknya juga, tapi gara-gara keasikan research Boccia, today we\u0026rsquo;re talking about Boccia!\nBoccia itu apa ya? # Boccia, ball sport presisi tinggi dan penuh strategi.\nBola-bola terbaik dari Kejuaran Dunia Boccia 2018\nBoccia adalah olahraga bola di mana atlet berlomba untuk mengumpulkan poin dengan melempar, menendang, atau menggulirkan bola mereka (merah atau biru) agar lebih dekat ke bola target (Jack, bola putih) daripada bola lawan. Poin dihitung\nBoccia adalah saudara dekat dari olahraga boules lainnya, seperti bocce, petanque, dan lawn bowls, semuanya punya inti yang sama, lomba mendekatkan bola ke bola target. Perbedaan ada di ukuran bola, lapangan, dan material bola.\nKarena boccia tidak punya olahraga yang ekuivalen di Olimpiade (tidak seperti Para Badminton), kalau mau tau aturannya, yuk lanjut ke bawah!\nPerlengkapan Boccia # Enam bola merah, enam bola biru. Satu warna untuk tiap atlet/tim. Satu bola putih, sebagai jack/bola target. (Khusus BC3, we\u0026rsquo;ll talk about this later) Ramp untuk menggulirkan bola dan mouth/head pointer. Keenam bola milik atlet/tim boleh berbeda-beda! Ada yang soft untuk akurasi, ada yang lebih keras untuk power, semua punya waktu dan tempat, tergantung strategi. Bola tidak bisa diganti setelah pertandingan dimulai, jadi memilih bola mana yang dibawa dengan baik itu penting. Klasifikasi atlet Boccia # Grigoris Polychronidis, legenda BC3 asal Yunani\nPenjelasan Klasifikasi di sini hanya sebagai panduan saja, detil lengkapnya terlalu ribet untuk dijelaskan di sini. Bisa cek LEXI atau (kalau niat) dokumen World Boccia/BISFed.\nBC1 # Impairment: Atlet di kategori ini memiliki impairment di kedua kaki, tangan, dan badan. Range pergerakan dan koordinasi anggota tubuh terbatas, dan kesulitan menggenggam dan melepas bola. Asistensi: Boleh punya seorang Sport Assistant untuk membantu mengambil bola dan memposisikan kursi roda. BC2 # Impairment: Atlet di kategori ini biasanya mempunyai impairment seperti BC1, namun di tingkatan lebih rendah daripada BC1. Genggaman tangan lebih kuat, koordinasi motorik lebih baik. Asistensi: Tanpa Sport Assistant BC3 # Impairment: Dengan/tanpa Cerebral Palsy (memenuhi kategori BC1/BC4), namun tidak bisa melempar bola melewati titik tengah secara terukur. Menggunakan ramp dan pointer kepala/mulut untuk menggulirkan bola. Asistensi: Punya seorang Ramp Operator untuk membantu atlet dalam permainan. Tugasnya menggeser, meninggikan, menurunkan, dan mengarahkan ramp. Tidak boleh melihat lapangan sama sekali sampai ronde/end selesai. Harus mengikuti perintah atlet.\nBiasanya Ramp Operator adalah orang dekat, terkadang istri/orang tua/saudara. Ramp Operator BC3 berhak mendapatkan medali bersama sang atlet, menjadikan mereka bagian dari sebuah kelompok eksklusif: orang-orang non-disabilitas yang berhak mendapatkan medali Paralimpiade. BC4 # Impairment: Atlet tanpa Cerebral Palsy, dengan disfungsi lokomotor di semua kaki dan tangan. Asistensi: Tanpa Sport Assistant Klasifikasi tim # BC1/2 Teams: Tiga orang, minimal satu atlet laki-laki dan perempuan, dan minimal satu atlet BC1. BC3 Pairs: Dua orang, satu laki-laki dan perempuan. BC4 Pairs: Dua orang, laki-laki dan perempuan. Alur permainan Boccia # Paralympic Games - Sport Explained: Boccia\nPemain dengan bola merah (paling kiri dari sisi atlit) selalu memulai ronde/end pertama, lalu selang-seling.\nWaktu, jumlah ronde dan lemparan # Jumlah ronde/end: 4 untuk individu, 6 untuk pairs/tim\nJumlah bola: 6 bola per sisi\nIndividu: semua bola dipegang sendiri Pairs: 3 bola/orang Team: 2 bola/orang Awal permainan # Pemain yang mendapatkan giliran jack melemparkan jack ke area lapangan, dan harus melewati garis V. Pemain tersebut lalu melemparkan bola warna pertama mereka ke lapangan. Pemain lawan lalu melemparkan bola warna pertama mereka ke lapangan. Menentukan pelempar berikutnya # Giliran berikutnya adalah untuk pemain/tim yang bolanya bukan paling dekat ke jack, ditandai oleh warna yang ditunjukkan wasit pakai raket tenis meja. Jadi kalau sial, bisa-bisa dipaksa ngelempar tiga sampai enam bola beruntun!\nJika bola satu sisi habis, maka tim lawan boleh melemparkan sisa bola mereka tanpa interupsi. Mereka bisa juga memutuskan untuk tidak melempar sisa bola mereka, kalau misalnya sulit untuk menambah poin.\nScoring # Scoring Boccia sama dengan curling, tapi bedanya di titik tengahnya aja (dari jack).\nContoh:\nTerdekat dari jack adalah 1 bola merah, lalu bola biru: 1 poin ke merah. Terdekat dari jack adalah 2 bola biru, lalu bola merah: 2 poin ke biru. Indonesia @ Paris 2024 Boccia # Kali ini (dan kedepannya) nggak bakal banyak flavor text, capek. Mending ke detilnya aja.\nIndonesia vs GB, final Sao Paulo 2024 World Boccia Cup BC1/2 Team\nAtlet yang lolos # Muhammad Syafa (BC1) (via BC1/2 Team)\nWorld Rank 2 Juara Sao Paulo 2024 Juara Montreal 2024 Runner Up Fortaleza 2023 Bronze Medal Hangzhou 2022 AiPG Felix Ardi Yudha (BC2) (via BC1/2 Team)\nWorld Rank 4 Runner Up Sao Paulo 2024 Runner Up Montreal 2024 4th Fortaleza 2023 Gold Medal Hangzhou 2022 AiPG Gischa Zayana (BC2) (via BC1/2 Team)\nWorld Rank 9 8th Sao Paulo 5th Montreal 2024 Runner Up Hong Kong 2023 Asia-Oceania Regional Runner Up Fortaleza 2023 Muhammad Bintang Satria Herlangga (BC2) (via Bipartite invitation)\nWorld Rank 7 3rd Sao Paulo 2024 4th Povoa de Varzim 2023 7th Fortaleza 2023 6th Hangzhou 2022 AiPG Indonesia @ BC1/2 Team (Felix/Syafa/Gischa)\nWorld Rank 4 Juara Sao Paulo 2024 Juara Montreal 2024 Runner Up Fortaleza (Felix/Handayani/Herlangga)* Kualifikasi via Coimbra Qualifying Tournament (2nd) (Felix/Handayani/Herlangga)* Catatan: Handayani merupakan bagian dari tim yang lolos Boccia, tapi slot tim merupakan milik NPC bukan atlet.\nKemungkinan besar perubahan dikarenakan pertimbangan komposisi tim. Nampaknya daripada Handayani/Herlangga (BC1/2), mereka lebih memlih Syafa/Gischa. Rank Gischa lebih tinggi dibanding Handayani (9 vs 15), dan Syafa is world number 2.\nHasil undian babak grup # Individual Pools Draw untuk Boccia. Belum ada drawing untuk tim.\nMen\u0026rsquo;s BC1 Pool B\nSeed Atlet NPC 2 Muhammad Syafa INA 7 Kim Dohyun KOR 12 Tomas Kral SVK Women\u0026rsquo;s BC2 Pool D\nSeed Atlet NPC 4 Chantal van Engelen NED 7 Gischa Zayana INA 9 Vivien Nagy HUN Men\u0026rsquo;s BC2 Pool B\nSeed Atlet NPC 4 Felix Ardi Yudha NED 12 Hirose Takayuki JPN 13 Danik Allard CAN 23 Yan Zhiqiang CHN Men\u0026rsquo;s BC2 Pool E\nSeed Atlet NPC 5 Sugimura Hidetaka JPN 7 Muhammad Bintang Satria Herlangga INA 14 Chee Hoong Lee MAS 21 Zhijian Lan CHN Ramalan peluang medali # Ini hanya opini dan ramalan tidak jelas saja!\nMen\u0026rsquo;s BC1: Muhammad Syafa berpotensi tinggi membawa pulang medali, bahkan bisa emas. Syafa sudah beberapa kali mengalahkan unggulan BC1 lainnya seperti David Smith (GBR, Rank 1), Witsanu Huadpradit (THA, Rank 3), Andre Ramos (POR, Rank 4), dan Daniel Perez (NED, Rank 5). Syafa juga sudah pernah mengalahkan seluruh calon lawan di grupnya, Tomas Kral (Fortaleza, Montreal, Sao Paulo) dan Kim Dohyun (Montreal, tapi pernah kalah di Asia-Oceania Regional).\nSelama bisa mengalahkan Tomas Kral, Syafa hampir pasti akan lolos ke babak QF, dan jika mampu menampilkan permainan terbaiknya, emas pun sangat mungkin dibawa pulang.\nMen\u0026rsquo;s BC2: Felix Ardi Yudha cukup berpeluang membawa pulang medali. Dua atlet yang akan menjadi rintangan utama Felix adalah duo Thailand Watcharapon Vongsa dan Worawut Saengampa (rank 1 dan 2) dan Maciel Santos (BRA, rank 3 | menang lawan Felix di Sao Paulo). Felix sudah pernah mengalahkan Watcharapon dan Maciel, namun setahu saya belum pernah mengalahkan Worawut. Nampaknya pool B akan mudah dilewati, namun fase gugur akan menjadi fase yang sangat mendebarkan.\nDibanding Felix, peluang medali Muhammad Herlangga terhitung lebih kecil. Sugimura Hidetaka, juara Tokyo 2020 dan yang mengalahkan Felix di Montreal, akan menjadi momok bagi semua orang di Pool E. Belum lagi Chee Hoong Lee yang sudah pernah mengalahkan Herlangga dalam proses memenangkan medali perak Asian Para Games 2022. Tapi sebagai seed 7, Herlangga sangat bisa memberi kejutan di fase gugur.\nWomen\u0026rsquo;s BC2: Peluang Gischa Zayana untuk membawa pulang menurut saya relatif kecil. Gischa gagal lolos dari fase grup di Sao Paulo, salah satunya karena dikalahkan 3-5 oleh Chantal van Engelen, yang se-grup bersama Gischa. Lolos dari grup pun, ratu-ratu BC2 seperti Claire Taggart (GBR, Rank 1), Hiu Lam Yeung (HKG, Rank 2), dan lainnya.\nTetap ada alasan untuk optimis, karena Gischa sudah pernah mengalahkan Hiu Lam Yeung dan Karina Sandoval (MEX, Rank 6) di Fortaleza, Jeong Soyeong (Rank 3, KOR) di Montreal.\nBC1/2 Team: Menurut saya, Felix/Gischa/Syafa berpotensi tinggi mencapai final, bahkan bisa emas. Dengan lineup saat ini, gelar juara BC1/2 Team di Montreal dan Sao Paulo sukses dibawa pulang oleh ketiga atlet kelas elit ini dengan menaklukkan Korea, Great Britain, Portugal, Kanada, dan lainya. Indonesia pernah menelan kekalahan 2x di Fortaleza melawan Thailand, namun itu saat lineup tim masih Felix/Handayani/Herlangga. Semoga bisa menggasak Thailand juga!\nOther non-Indo things to watch # David Smith, GBR - BC1 Male\nTop-ranked BC1 Male, dengan koleksi tiga emas dan satu perak dari empat Paralimpiade. Saingan berat Muhammad Syafa.\nGrigorios Polychronidis, GRE - BC3 Male Juga salah satu legenda Boccia, menuju Paralimpiade ke-5 beliau. Satu emas, tiga perak, dan dua perunggu Paralimpiade. Sang istri, Kat, setia di sisi sebagai Ramp Operator andalan.\nKomunikasi atlet dan Ramp Operator di BC3\nKarena nggak bisa melihat area permainan, Ramp Operator harus dipandu oleh sang atlet. Mereka harus saling percaya, dan komunikasi keduanya harus cepat, agar ramp operator dapat mengatur ramp sesuai keinginan atlet.\nNext on the guide\u0026hellip; # Atletik? Renang? What do you think? Sound off on my Twitter. I\u0026rsquo;m refusing to call it X. Elon deadnames his kid, I\u0026rsquo;m deadnaming his platform.\n","date":"20 August 2024","externalUrl":null,"permalink":"/posts/not-guide-to-paralympics-boccia/","section":"Posts","summary":"Up next - Boccia! Lemparan dan guliran bola akurat, like curling but somehow three-dimensional!","title":"'Not A Guide' to Paris Paralympics part 2: Boccia!","type":"posts"},{"content":"","date":"20 August 2024","externalUrl":null,"permalink":"/tags/blog/","section":"Tags","summary":"","title":"blog","type":"tags"},{"content":"","date":"20 August 2024","externalUrl":null,"permalink":"/tags/not-a-guide-paralympics/","section":"Tags","summary":"","title":"not-a-guide-paralympics","type":"tags"},{"content":" PARALYMPICS NO JIKAN DA! IT\u0026rsquo;S TIME FOR THE PARALYMPICS! # Ladies and gentlemen, the warm-up event is over! Olimpiade sudah lewat! Saatnya menyambut gelaran yang lebih saya tunggu daripada Olimpiade Paris 2024, Paralimpiade Paris 2024!\n“I love the Paralympics – I call the Olympics the warm-up event for the big show. For two weeks of the year, people with disabilities around the world, it’s the main show. It means everything to me.”\n\u0026ldquo;Saya cinta Paralimpiade - saya menyebut Olimpiade itu pemanasan untuk acara utamanya. Selama 2 minggu, orang-orang dengan disabilitas di seluruh dunia, kita yang jadi bintangnya. [Paralimpiade] ini segalanya untuk saya.\u0026rdquo;\n-----\nDylan Alcott\nPeraih emas Paralimpiade (Beijing 2008 - Basket kursi roda, Rio 2016 \u0026amp; Tokyo 2020 Tenis kursi roda)\nSeberapa sering kita melihat orang-orang dengan disabilitas di sekitar kita? Jarang kan? Sayangnya, terkadang kita jarang melihat mereka, murni karena lingkungan kita yang biasanya dibangun tanpa akomodasi disabilitas. Lha kadang ramp kursi roda aja 30 derajat lebih. So that\u0026rsquo;s why, menurut saya sendiri, Paralimpiade itu event yang penting. Bukan sekedar pentas olahraga, tapi juga \u0026lsquo;memperlihatkan\u0026rsquo; eksistensi orang dengan disabilitas, yang biasanya tidak terlihat.\nEnough yapping, let\u0026rsquo;s get to it.\nDetil cabang Para Badminton masih belom lengkap! Masih cuma MS dan WS SL4. Tenang, bakal dilanjut ke Part 2 at some point. Kecapean nulis perkenalan atlet dan ngumpulin statistik, apalagi waktu pertama kali nyari, \u0026lsquo;flow\u0026rsquo;nya kurang nyaman. Harusnya abis ini nyari statistik buat yang lain bakal lebih cepet. Para Badminton itu apa ya? # Para Badminton: Seperti Badminton, tapi dengan penyesuaian tertentu untuk mengakomodasi disabilitas.\nSeriously, it\u0026rsquo;s that simple! Nontonnya hampir ga ada bedanya, kecuali ukuran lapangan untuk kelas-kelas tertentu. Tulisan ini lebih mencakup pengenalan klasifikasi dan urusan kualifikasi.\nKalau cukup tau mengenai klasifikasi Para Badminton, apalagi kalau kemarin nonton Para Badminton Tokyo 2020, you can skip to \u0026ldquo;What\u0026rsquo;s changed for Paris 2024\u0026rdquo;.\nKlasifikasi Para Badminton dan aturan khususnya # (Klik bagian klasifikasi untuk membuka halaman situs klasifikasi LEXI. Kalau pake langsung, bayar mahal kayaknya. I\u0026rsquo;m cheap.)\nWH* - Cabang kursi roda # WH1: Impairment tinggi di satu sisi (termasuk badan) atau dari kaki sampai perut, impairment tinggi di kaki dan sedikit di pinggul ke atas, atau hilangnya kaki (satu atau keduanya) sekitaran setengah paha. WH2: Impairment moderat di satu sisi (termasuk badan), impairment moderat hingga tinggi dari sampai pinggul (lower-trunk), atau hilangnya kaki (satu atau keduanya) sampai lutut Pembeda antara kelas: mobilitas, biasanya WH2 lebih bisa seimbang dan menjangkau bola yang jauh.\nPerbedaan area lapangan: Tidak pakai front court! Atlet cabang tunggal bermain sebelah lapangan, sedangkan kalau ganda mainnya full kecuali front court.\nPeraturan pasangan ganda: Minimal ada satu pemain WH1, tidak boleh dua-duanya WH2.\nSx* - Cabang berdiri # SL3 Standing Lower-3: Impairment moderat di satu sisi kaki dan tangan atau kedua kaki, atau hilang kaki sebagian (dengan kaki palsu).\nSL4 Standing Lower-4: Impairment rendah di satu sisi kaki dan tangan atau kedua kaki, atau hilang kaki minor satu sisi (dengan kaki palsu).\nSU5 Standing Upper-5: Impairment rendah di sisi tangan pemegang raket, tinggi di sisi non-pegang raket, atau segala bentuk hilang tangan sebelah (dari minor sampai full absence). Klasifikasi menentukan tangan mana yang harus memegang raket, ga boleh kebalik megangnya.\nSH6 Short Stature: As the name says. Untuk laki-laki, standing height \u0026lt;=145cm, panjang tangan\u0026lt;=66cm, standing height + panjang tangan \u0026lt;=200cm. Untuk perempuan, standing height \u0026lt;=137cm, panjang tangan\u0026lt;=63cm, standing height + panjang tangan \u0026lt;=190cm.\nPembeda antara kelas: SL4 lebih gesit dari SL3, sedangkan SU5 itu paling luwes, impairment hanya di tangan.\nPerbedaan area lapangan: SL3 bermain half court, sedangkan SL4, SU5, dan SH6 bermain full court seperti biasa.\nPeraturan pasangan ganda: SL3-SU5 maksimal 8 poin. Biasanya SL3-SU5 atau SL4-SL4.\nTokyo 2020 Winners # WH1 Singles: Qu Zimo (Men\u0026rsquo;s, CHN) \u0026amp; Sarina Satomi (Women\u0026rsquo;s, JPN)\nWH2 Singles: Daiki Kajiwara (M, JPN) \u0026amp; Liu Yutong (W, JPN)\nSL3 Singles: Pramod Bhagat (M, IND) no WS SL3\nSL4 Singles: Lucas Mazur (M, FRA) \u0026amp; Cheng Hefang (W, CHN)\nSU5 Singles: Liek Hou Cheah (M, MAS) \u0026amp; Yang Qiuxia (W, CHN)\nSH6 Singles: Krishna Nagar (M, IND) no WS SH6\nWH1-2 Doubles: Mai Jianpeng/Qu Zimo (M, CHN) \u0026amp; Sarina Satomi/Yuma Yamazaki (W, JPN)\nSL3-SU5 WD: Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah (INA) no MD SL3-SU5\nSL3-SU5 XD: Leani Ratri Oktila/Hary Susanto (INA)\nno SH6 Doubles\nWhat\u0026rsquo;s changed for Paris 2024 Para Badminton # Kuota naik 30 atlet, dari 90 jadi 120 orang. SH6 dapat WS dan XD, jadinya lengkap dengan MS/WS/XD. SL3-SU5 ganda jadi sisa XD, WD hilang. MS dan WS lengkap* dari WH1 sampai SH6. Nambah SL3 WS dan SH6 WS/XD, kurang SL3-SU5 WD, total 16 event. Indonesia @ Paris 2024 Para Badminton # Ah yes, now we\u0026rsquo;re into the main point of this \u0026rsquo;not guide\u0026rsquo;. Some flavor text for fun too!\nAtlet Indonesia # Perempuan # Qonitah Ikhtiar Syakuroh (WS SL3)\nBaru muncul di turnamen ranking internasional sejak 2022, Qonitah sukses memborong poin ranking dari event Level 1 sampai sukses menjadi Ranking 1 RTP, serta saat ini sedang bertengger di puncak ranking WS SL3. Meskipun begitu, Zuxian (CHN) dan Mariam (NGR) akan memberi perlawanan sengit. Ayok Qonitah, bisa! Leani Ratri Oktila alias Ratri (WS SL4 \u0026amp; XD SL3-SU5)\nOne of the queens of Para Badminton, most successful women\u0026rsquo;s para shuttler (enam gelar Juara Dunia), Indonesia\u0026rsquo;s most successful Paralympian (so far!), among others.\nSetelah sukses meraih bonus Tokyo 2020 13,5 miliar rupiah (Lebih dari total bonus Olimpiade Tokyo), Paris 2024 menjadi Paralimpiade kedua untuk Ratri. Tanpa gelaran WD SL3-SU5, akankah sang ratu bisa melewati Cheng Hefang dan tetap membawa pulang dua emas? Khalimatus Sadiyah alias Alim (WS SL4 \u0026amp; XD SL3-SU5)\nDua gelar Juara Dunia dan satu emas Paralimpiade sudah ada di dalam koleksi Alim. Setelah di Tokyo hanya bermain di WD, sang WS2 kelahiran Mojokerto siap menjajal WS dan XD Paralimpiade pertama kali. Dengan kemungkinan bertemunya Alim dengan Ratri di bracket, akankah ia bisa lepas dari bayangan partner WDnya selama ini? Rina Marlina (WS \u0026amp; XD SH6)\nPertama kali mengikuti Paralimpiade, pemegang gelar 2023 Female Para-Player of the Year ini datang sebagai pemuncak RTP untuk WS dan XD SH6. Hampir semua gelar diborongnya, yang gagal dibawa pulang pun hanya karena retired. Meskipun tahun ini sebelum Paralimpiade ia hanya tampil di XD 4 Nations Para Badminton International, apakah Rina akan langsung panas dan menjadi ratu para badminton berikutnya? Laki-laki # Fredy Setiawan (MS SL4 \u0026amp; XD SL3-SU5)\nFredy sebagai ranking 3 dan MS1 Indonesia di SL4 akan menjadi harapan utama medali di kategori ini. Terjangan Lucas Mazur dan Suhas Yathiraj mau tidak mau harus dihadapi untuk melaju ke final. Selain itu, Fredy juga berduet dengan Alim di XD SL3-SU5 di ranking 2 dunia. Peluang All-Indonesian Final itu ada. Inikah momen Fredy/Alim untuk mengalahkan Ratri pertama kalinya? Bisakah Fredy mengalungkan dua medali di lehernya? Hikmat Ramdani (MS SL4 \u0026amp; XD SL3-SU5)\nHikmat, bersama Ratri, adalah XD SL3-SU5 terbaik di dunia saat ini. Selepas pensiunnya pak Hary Susanto, Hikmat/Ratri menjadi duet maut yang hanya pernah kalah sekali sepanjang sejarah. Selain itu, Hikmat bertengger di rank 8 dunia SL4. Bukan cabang terkuatnya, tapi peluang deep run Hikmat lebih besar dari yang anda pikirkan. Dheva Anrimusthi (MS SU5)\nDheva, sang bintang SU5 Indonesia. Juara Asian Para Games 2022. Meskipun akhir-akhir ini kadang bergelut dengan cedera, ia masih salah satu MS SU5 terbaik di dunia. Di kategori dengan persaingan yang sangat ketat, perbedaan tipis saja bisa menjadi penentu kemenangan/kekalahan. Sehat selalu Dheva, agar bisa tampil maksimal! Suryo Nugroho (MS SU5)\nSaat Dheva terhadang lebih awal atau tidak hadir, Suryo sebagai MS2 Indonesia di SL5 langsung menunjukkan taringnya. Meskipun masih belum bisa mengalahkan Dheva, Suryo beberapa kali bisa mengalahkan lawan yang di atas kertas jauh menunggulinya. Inikah momen Suryo untuk melampaui Dheva? Subhan (MS \u0026amp; XD SH6)\nSubhan, bersama Rina, adalah penguasa XD SH6. Tapi selain itu, ia juga akan mengikuti tunggal putra SH6. Meskipun ranking Subhan di MS SH6 tidak setinggi XD, tetap saja kehadirannya akan memanaskan persaingan. Semoga sukses di kedua kategori, Subhan! Perubahan komposisi atlet dari Tokyo 2020 # Tidak ada Indonesia di MS SL3. Ukun Rukaendi pensiun (waktu Asian Para Games udah 53 tahun!!), dan Dwiyoko hanya sampai ranking 20 di RTP. Khalimatus Sadiyah (Alim) dan Fredy Setiawan masuk XD SL3-SU5, Indonesia jadi punya 2 pasangan di kategori ini. Alim/Fredy ada di ranking 2 RTP. Hikmat Ramdani masuk di MS SL4 dan juga menjadi pasangan baru Leani Ratri Oktila (Ratri) di XD SL3-SU5, menggantikan Hary Susanto yang sudah pensiun. Hikmat berada di posisi 7 RTP, sedangkan Hikmat/Ratri sukses menjadi pemuncak ranking RTP. Alim juga masuk WS SL4, setelah sebelumnya hanya ikut WD SL3-SU5 bersama Ratri. Alim bertengger di posisi 5 RTP. Rina dan Subhan masuk di WS/MS dan XD SH6. Nyaris tak bisa dikalahkan bersama (lifetime W/L 46-1), tentunya mereka adalah raja dan ratu di RTP XD SH6. Di sektor tunggal, Rina juga menjadi pemuncak RTP (Female Para-player of the year gitu lho), sedangkan Subhan ada di rank 14 MS. Meskipun jauh secara ranking, ia tetap bisa masuk tunggal putra dikarenakan setiap atlit ganda berhak masuk kategori tunggal masing-masing. Statistik, H2H, dan ramalan medali # MS SL4 # Atlet\nFredy Setiawan (Rank 3 RTP) Hikmat Ramdani (Rank 7 RTP) Recent form dari turnamen-turnamen yang penting\nTournament Fredy Results Notes | Hikmat Results Notes 2024 4 Nations SF L vs Suhas Yathiraj | QF L vs Fredy Setiawan 2024 Thai WC Runner up L vs Suhas Yathiraj | Ro16 L vs Rogerio De Oliveira, Fredy World Abilitysport Winner W vs Hikmat | RU L vs Fredy 2023 Japan RU L vs Mohd Amin | QF L vs Fredy Asian Para Games SF L vs Suhas Yathiraj | QF L vs Suhas Yathiraj Head to Head pilihan\nRecord vs Fredy Hikmat Lucas Mazur 1-10 0-5 Suhas Yathiraj 2-5 1-4 Mohd Amin Burhanuddin 3-2 0-2 Sukant Khadam 12-0 3-1 Tarun 4-4 2-2 Shin Kyung-Hwan 6-2 2-2 Fredy vs Hikmat 6 2 Ramalan medali\nMenurut saya sih, setidaknya satu medali. Kemungkinan besar oleh Fredy, setidaknya perunggu, bisa perak, tapi emas rasanya sangat sulit kecuali bisa memecah kebuntuan vs Lucas, yang masih nyaris untouchable untuk mereka berdua.\nHikmat juga ada peluang medali, meskipun relatif kecil.\nWS SL4 # Atlet\nLeani Ratri Oktila (Ratri) (Rank 3 RTP) Khalimatus Sadiyah (Alim) (Rank 5 RTP) Recent Form\nTournaments Ratri Result Notes | Alim Result Notes 2024 4 Nations Winner W vs Faustine | SF L vs Ratri, Faustine 2024 Thai WC Runner Up L vs Cheng Hefang | QF (Ro16 bye) L vs Cheng Hefang 2023 Japan SF L vs Cheng 2x | SF L vs Fujino, Cheng Asian Para Games RU L vs Cheng 2x | SF L vs Cheng Hefang 2023 Western Aus RU L vs Vaishnavi, W vs Helle Sofie | QF L vs Helle Sofie Head to Head pilihan\nRecord vs Ratri Alim Cheng Hefang 2-12 0-9 Helle Sofie Sagøy 8-1 3-2 Fujino Haruka 6-1 2-8 Palak Kohli 3-1 2-1 Milena Surreau 4-0 3-0 Faustine Noel 9-0 7-0 Ratri vs Alim 11 0 Ramalan medali\nDari penglihatan saya, perak hampir terjamin oleh Ratri, sisa bagaimana ia bisa upgrade perak Tokyo ke emas dengan mengalahkan Cheng Hefang.\nSelain itu, peluang medali juga terbuka untuk Alim. Bukan hanya Cheng Hefang, Fujino Haruka dan bahkan Ratri juga bisa menjadi penghalang untuk menuju semifinal jika hasil draw tidak menguntungkan.\nWhat\u0026rsquo;s next for the guide? # Nulis capek juga ya, ternyata. Setelah ini, mungkin saya ambil break dari Badminton dulu, dan beralih ke cabang lain. Kemungkinan besar part 2 adalah Atletik dan Boccia!\nI love watching para athletics, dan nonton replay Boccia itu seru banget. If I don\u0026rsquo;t post part 2 by the end of the 20th, please remind/slap me on Twitter.\nGue bakal usaha ngelengkapin sisa deep dive very soon, but don\u0026rsquo;t force me to it! Opening Ceremony persis ultah, dan besoknya Parabad udah langsung mulai coy!\n","date":"17 August 2024","externalUrl":null,"permalink":"/posts/not-guide-to-paralympics-badminton/","section":"Posts","summary":"First in the \u0026lsquo;Not A Guide to the Paris Paralympics\u0026rsquo; series! Perkenalan Para Badminton, Atlet Indonesia, dan Deep Dive SL4.","title":"'Not A Guide' to Paris Paralympics part 1: Para Badminton dan deep dive MS \u0026 WS SL4","type":"posts"},{"content":"This is just a test\u0026hellip; I may or may not use this thing again in the future. But it\u0026rsquo;ll stay here, as long as I configure the sites right.\n","date":"16 August 2024","externalUrl":null,"permalink":"/posts/welcome/","section":"Posts","summary":"Just because I make it, doesn\u0026rsquo;t mean I will update it.","title":"Welcome, maybe.","type":"posts"},{"content":"","externalUrl":null,"permalink":"/authors/","section":"Authors","summary":"","title":"Authors","type":"authors"},{"content":"","externalUrl":null,"permalink":"/series/","section":"Series","summary":"","title":"Series","type":"series"}]